Thee Marloes "Di Hotel Malibu": Album Kedua yang Membuktikan Surabaya Bicara ke Dunia

Thee Marloes merilis album kedua mereka, Di Hotel Malibu, via Big Crown Records, sebuah karya psych-soul dari Surabaya yang makin matang, makin berani, dan makin Indonesia. Baca ulasan lengkapnya di sini.

Thee Marloes "Di Hotel Malibu": Album Kedua yang Membuktikan Surabaya Bicara ke Dunia

Ada band Indonesia yang tidak sedang mencoba terdengar internasional. Mereka cukup jadi diri sendiri dan dunia yang datang menghampiri. Itulah Thee Marloes.

Trio asal Surabaya ini, Natassya Sianturi (vokal, keyboard), Sinatrya Dharaka (gitar, produser), dan Tommy Satwick (drum), resmi merilis album kedua mereka bertajuk Di Hotel Malibu pada 22 Mei 2026, di bawah naungan Big Crown Records, label yang selama ini menjadi rumah bagi soul dan funk terbaik dari penjuru dunia.

Bukan sekadar kelanjutan, ini ekspansi

Dua tahun setelah debut Perak memperkenalkan warna mereka ke dunia, Di Hotel Malibu datang bukan untuk mengulang, tapi untuk membuka frame yang lebih lebar. Album ini hadir sebagai pelebaran cakrawala, langkah yang percaya diri untuk keluar dari garis-garis yang dulu membentuk suara mereka, menuju sesuatu yang lebih porous, lebih percakapan, dan lebih dalam ke akar Indonesia.

Empat belas lagu tersaji di sini: dari opener "Under the Silver Moon" yang mengalir seperti sore yang tak mau beranjak, "6 Years", "Harap Dan Ragu", hingga track penutup "Rahasia". Rekaman ini tak meninggalkan akar mereka, ia justru meregangkannya, menunjukkan seberapa jauh mereka telah tumbuh sejak debut dan semua pengalaman yang menyertainya.

Produksi yang semakin dewasa

Psych-soul bersinar matahari dari Di Hotel Malibu menghadirkan perasaan kuat bahwa band Indonesia ini sedang dalam stride terbaik mereka, dan masih berada di awal dari apa yang akan menjadi diskografi yang commanding. Sinatrya Dharaka sekali lagi duduk di kursi produser, dan hasilnya terdengar seperti seseorang yang sudah tahu persis mau ke mana.

Aransemen bergerak di spektrum yang lebih luas: warna instrumental baru, tikungan ritmis yang tidak terduga, dan pendekatan yang lebih loose terhadap struktur. Bahasa Indonesia dan Inggris berpadu natural, bukan karena ingin terdengar global, tapi karena memang begitulah mereka berpikir dan merasa.

Orisinialitas adalah tentang kejujuran

Di tengah lanskap musik Indonesia yang makin ramai namun makin seragam, Thee Marloes adalah pengingat bahwa orisinalitas bukan tentang menjadi berbeda demi berbeda. Ini tentang kejujuran. Tentang band yang tahu siapa mereka dan tidak minta izin untuk itu.


Photography By : Thee Marloes Official

Please wait...