Basboi Rilis Album Kedua "Kasablanka", Potret Jujur Gaya Hidup Metropolitan dan Perjalanan Seorang Perantau

Memasuki 10 tahun berkarya, Basboi merilis album kedua bertajuk Kasablanka. Sebuah potret gaya hidup metropolitan, ambisi, validasi, dan perjalanan seorang perantau dari Medan, Bandung, hingga Jakarta.

10 Tahun Berkarya, Basboi Tunjukkan Versi Paling Orisinil Lewat Album Kedua "Kasablanka"

Sebuah potret gaya hidup metropolitan, ambisi, dan perjalanan seorang perantau yang dibentuk oleh Medan, Bandung, hingga Jakarta.

Setelah lebih dulu memperkenalkan semesta Kasablanka lewat single "GayA idup" dan "Kl bkn aq", Basboi akhirnya resmi merilis album keduanya yang bertajuk Kasablanka di seluruh platform digital streaming.

Lebih dari sekadar album tentang kehidupan kota besar, Kasablanka menjadi proyek yang memperlihatkan versi paling jujur dan orisinil dari Basboi. Seorang perantau asal Medan yang ditempa di Bandung, lalu bertumbuh secara personal maupun kreatif di Jakarta—tepatnya di kawasan Kasablanka.

"Jakarta is a junkie for lifestyle," tegas Basboi.

Dan mungkin tidak ada kawasan di Jakarta yang merepresentasikan hal tersebut seaneh Kasablanka. Di sini, berbagai lapisan kehidupan hidup berdampingan. Mall besar dan warung kaki lima. Apartemen mewah dan kos sederhana. Anak gym, pekerja kantoran, komunitas motor, hingga mereka yang setiap hari berusaha terlihat baik-baik saja meski sedang berjuang keras.

Semua ingin naik kelas. Semua ingin terlihat desirable.

Dari observasi itulah lahir Kasablanka, sebuah album yang terasa seperti potret satu hari penuh di Jakarta dari sudut pandang Basboi. Jika "GayA idup" menggambarkan pagi hari ketika semua orang mulai berlari mengejar versi terbaik dirinya, maka Kasablanka menghadirkan lanskap kota secara lebih utuh: flashy tapi lelah, ganteng tapi kosong, ramai tapi kesepian.

Secara musikal, Basboi membangun dunia yang terdengar seperti Jakarta itu sendiri. Padat, cepat, berisik, penuh energi, dan terus bergerak bahkan ketika orang-orang di dalamnya mulai kehabisan tenaga.

Melalui balutan jerk drums, glossy trap, lagu-lagu untuk perjalanan malam, flirting, flexing, hingga momen reflektif saat pulang sendirian dini hari, Kasablanka menghadirkan berbagai sisi kehidupan metropolitan yang saling bertabrakan namun terasa akrab.

Namun di balik mobil, fashion, nightlife, dan simbol-simbol gaya hidup kota besar, album ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih sederhana: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di tengah lingkungan yang terus mendorong semua orang untuk menjadi sosok lain.

"Menurut gue, ini mungkin album paling jujur yang pernah gue bikin. Gue nggak lagi bikin persona baru atau berusaha ngejelasin diri gue ke orang lain. Ini lebih kayak hasil dari semua kota yang pernah ngebentuk gue, Medan, Bandung, sampai akhirnya Jakarta, di Kasablanka," ujar Basboi.

Menariknya, Basboi tidak pernah memosisikan dirinya sebagai sosok yang menolak gaya hidup kota besar. Ia justru mengakui dirinya adalah bagian dari dunia tersebut.

Ia menyukai mobil, fashion, perhatian, dan berbagai kenyamanan yang ditawarkan kehidupan urban. Namun di saat yang sama, ia juga menyadari bagaimana Jakarta dapat membuat banyak orang perlahan menjadi "sakaw validasi".

Karena itulah, bagi Basboi, bentuk perlawanan paling relevan hari ini bukan lagi soal chaos atau pemberontakan yang berisik.

Melainkan disiplin.

Tetap bangun pagi. Tetap berkarya. Tetap menjaga diri. Tetap melangkah meski banyak orang mulai kehilangan arah.

"Gue suka lifestyle itu, tapi di saat yang sama gue juga sadar kota ini bisa bikin semua orang capek ngejar validasi. Mungkin sekarang hal paling rebel tuh justru tetap disiplin, tetap waras, tetap jalan terus," tambahnya.

Kolaborasi Lintas Frekuensi di Album Kasablanka

Dari sisi kolaborasi, Kasablanka mempertemukan sejumlah nama dari berbagai spektrum musik yang bergerak dalam frekuensi yang sama. Mulai dari Quest, Pierre Lynx, Raka, hingga Duffy D yang memberi warna berbeda di setiap cerita yang disampaikan.

Sementara dari sisi produksi, album ini bergerak bebas dari trap yang keras dan gelap menuju komposisi yang lebih melodis dan emosional.

Concerto dan Panji Wisnu menjadi fondasi utama suara Kasablanka, didukung oleh Ryldryl, IVAN, prodyuji.mp3, Panjoypickup, hingga kolaborator internasional seperti Igorbeats, lyricslesson dari Amerika Serikat, dan Nino dari Bangkok.

Album yang Tidak Lagi Sibuk Menjelaskan Diri

Memasuki tahun ke-10 berkarya sebagai Basboi, Kasablanka tidak terdengar seperti karya seseorang yang sedang membangun persona baru.

Sebaliknya, album ini terdengar seperti karya seorang musisi yang akhirnya berhenti terlalu sibuk menjelaskan dirinya kepada orang lain.

Setelah cukup lama hidup di tengah tekanan, ambisi, validasi, dan segala kompleksitas kehidupan metropolitan, pertanyaan yang muncul menjadi sederhana:

Apakah Basboi merepresentasikan energi Kasablanka?

Atau justru Kasablanka yang selama ini membentuk Basboi?

Mungkin jawabannya tidak terlalu penting.

 

Karena bagi Basboi, hidup tidak selalu tentang menemukan jawaban yang paling benar. Kadang yang lebih penting adalah keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.


Photography By : Basboi Official

Please wait...